Urgensi Keterbukaan Data serta Informasi Dalam Menangani dan Menanggulangi Wabah COVID-19

Banyak negara mengumpulkan informasi menggunakan berbagai alat sensor data dan aplikasi kesehatan untuk mencatat persebaran penyakit. Berdasar laporan yang diterbitkan oleh New York Times (NYT), minimnya keterbukaan diberikan oleh berbagai negara dalam mengumpulkan informasi atas tiap individu serta mereka yang tergolong sebagai pasien COVID-19. Bahkan minimnya keterbukaan atas kumpulan informasi tersebut sampai menyangkut ke perihal kroscek data dan penggunaan kembali data untuk kepentingan lainnya. NYT mencontohkannya dengan Alipay Health Code (AHC) yang merupakan anakan dari perusahaan Alibaba yang bergerak di bidang kesehatan. Di saat wabah COVID-19 terjadi, AHC memiliki peran membantu pemerintah Cina atas informasi persebaran dan rujukan putusan atas karantina wilayah untuk menanggulangi wabah COVID-19. Akan tetapi kenyataannya, AHC juga membagikan informasi tersebut kepada pihak kepolisian, yang belum diketahui dasar keperluan dan penerapannya. Sementara di Italia, otoritas pengamanan data lokal menuntut penegasan serta kriteria data yang dapat diperoleh dan digunakan untuk hanya tujuan tertentu, yakni perihal kesehatan. Tuntutan tersebut ditetapkan oleh Dewan Perlindungan Data Eropa (EDPB) yang menjelaskan mengenai pengamanan atas data individu untuk tujuan pengolahan informasi dalam menangani wabah COVID-19 yang terbatas pada perihal kesehatan.

Pengamanan atas data tersebut diperlukan mengingat big data dan dunia digital memiliki peran yang besar dalam mencegah serta menanggulangi serangan wabah COVID-19. Seperti mengidentifikasi mereka yang telah bepergian ke wilayah yang telah terdampak oleh COVID-19, sehingga dapat segera ditekan potensi penyebarannya. Namun di sisi lain, keterbukaan atas data yang telah diberikan serta penerapannya sebagai bentuk dari informasi juga penting dilakukan. Pengabaian terhadap keterbukaan dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan instansi-intansi terkait dan parahnya bila turut berimbas pada institusi pelayanan kesehatan. Oleh sebab itu, upaya pengumpulan data dan penerapannya menjadi informasi serta penyebarluasnnya diharuskan memenuhi kriteria: 1) proporsional atas potensi ancaman kesehatan masyarakat yang diberikan; 2) terbatas pada yang diperlukan serta mencapai tujuan dari kesehatan masyarakat dan; 3) pengolahan data serta informasi yang dihasilkan harus dapat terjustifikasi secara sains, yang berarti telah melewati kesahihan metode dan penyimpulan.

Atas kerangka tersebut tentu upaya mengambil data dari individu untuk keperluan identifikasi, pelacakan, serta pemberitahuan dalam upaya menanggulangi COVID-19 menjadi terjustifikasi. Pemisalan sederhana adalah pengambilan data dari ponsel tiap individu terkait rekam kesehatan (MR) dan menerapkannya untuk memberitahukan adanya risiko ancaman dalam suatu wilayah oleh sebab keberadaan mereka yang terindikasi—baik orang dalam pantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP)—atau dalam artian telah menjadi klaster tersendiri. Perlu untuk menjadi catatan bahwa kerahasiaan identitas serta posisi akurat mereka yang terindikasi harus tetap dirahasiakan dan tidak dimunculkan. Penerapan kerangka ini telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia yakni dengan meluncurkan aplikasi PeduliLindungi. Aplikasi tersebut menggunakan data pada ponsel tiap individu dengan Bluetooth yang senantiasa aktif merekam dan memproduksi informasi yang dibutuhkan. Produksi informasi hanya terjadi ketika ada ponsel individu lain yang berada dalam radius Bluetooth yang terdaftar di aplikasi PeduliLindungi. Mereka yang statusnya ODP dan PDP akan mudah teridentifikasi dan memberikan sinyal kepada ponsel individu lain di luar kategori ODP atau PDP bahwa mereka tengah berada di wilayah yang berisiko oleh COVID-19.

Akan tetapi yang perlu digarisbawahi—menjadi penting untuk tidak terjadi—adalah timpang tindihnya persetujuan dan kerahasiaan atas nama penanggulangan COVID-19, yang tentunya akan menyebabkan ketidakpercayaan masyarakat dan kemungkinan berakhir menjadi kekacauan. Faktor risiko ketidakpercayaan ini menjadi sangat tinggi di negara-negara yang masyarakatnya telah memiliki tingkat kepercayaan yang rendah terhadap pemerintahnya sendiri, seperti Italia, Prancis, Iran, Amerika Serikat, bahkan mungkin juga Indonesia. Oleh sebab itu menjadi semakin jelas bahwa setiap upaya yang melibatkan proses pengambilan, pengumpulan, pengolahan, dan penyebarluasan data—dan informasi—dari individu memerlukan persetujuan dari masyarakat. Kerahasiaan perihal tata pengambilan, pengumpulan, pengolahan, dan penyebarluasan data harus dihindari, terlebih bila ditujukan pada kemaslahatan bersama. Khususnya mengenai penyebarluasan, yang sangat berpotensi kembali diolah oleh pihak ketiga.

Langkah yang cukup baik ditempuh oleh Jerman dengan menginisasikan program COVID-19 Snapshot Monitoring (COSMO) dalam menangani wabah COVID-19. Hampir setiap pekan, ribuan masyarakat Jerman dengan berbagai kriteria umur dan jenis kelamin mengisikan layanan survei daring mengenai program pemerintah yang tengah dilaksanakan dan harapan program yang mungkin dapat dilakukan sesuai pada kebutuhan yang tengah dirasakan saat itu oleh setiap individu. Tujuan dari COSMO adalah untuk mengetahui kondisi psikologis—rasa takut, diskriminasi, dan stigma—serta respon di masyarakat, kemungkinan adanya misformasi yang menyebar di masyarakat, dan mengetahui perubahan perilaku yang terjadi sehingga dapat dirumuskan dan dilakukan segera langkah atau upaya tertentu untuk menanggulanginya. Data yang diperoleh dari masyarakat kemudian diolah dan diterbitkan bersamaan dengan program-program lainnya—yang ditujukan untuk penganggulangan wabah COVID-19—di media khusus yang dapat diakses oleh setiap masyarakat Jerman.

Temuan hasil yang didapatkan dari periode survei yang dilakukan antara 3-4 Maret dan 10-11 Maret adalah permintaan penyebarluasan pengetahuan serta informasi tergolong tinggi di masyarakat, sementara permintaan upaya perlindungan masih tergolong rendah, dan kerentanan penyerapan informasi di kalangan lansia tergolong sangat rendah. Bahkan yang menarik adalah keinginan swayada masyarakat Jerman untuk membatasi interaksi sosial sehari-hari guna menekan laju penjangkitan wabah dan mengurani beban sistem pelayanan kesehatan tergolong tinggi. Keinginan tersebut terpantau beralih menjadi sangat tinggi ketika dihadapkan pada pemberian informasi bahwa membatasi interaksi sosial sehari-hari dapat sangat membantu melindungi kelompok rentan seperti para lansia dari risiko wabah COVID-19. Atas temuan tersebut, tentu dapat disadari, bahwa komunikasi yang tepat menjadi hal yang sangat penting bagi pemerintah serta institusi kesehatan untuk menangani serta menanggulangi wabah COVID-19. Dengan komunikasi yang tepat, masyarakat dapat mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya dihindari, sehingga keinginan atau upaya melawan apa yang dihindari dapat ditekan oleh sebab kesadaran bahwa hanya dia yang lalai dan kelalaiannya dapat menyebabkan kemungkinan dampak buruk bagi banyak orang. Atas kerangka tersebut juga kita dapat mengetahui bahwa solidaritas dapat dibangun di saat krisis melalui komunikasi yang tepat dan tanggap, dan data dapat memberikan pemerintah serta institusi terkait tentang kebutuhan serta argumentasi yang kuat untuk menangani krisis yang tengah terjadi.


Rujukan Bahasan

Aziz, Ibnu. 2020. Mengenal Aplikasi PeduliLindungi: Cara Kerja dan Menggunakannya. Tirto https://tirto.id/mengenal-aplikasi-pedulilindungi-cara-kerja-dan-menggunakannya-eJWT.
Betsch, Cornelia. 2020. How behavioural science data helps mitigate the COVID-19 crisis. Nature https://doi.org/10.1038/s41562-020-0866-1.
Ienca, Marcello dkk.. 2020. On the responsible use of digital data to tackle the COVID-19 pandemic. Nature https://doi.org/10.1038/s41591-020-0832-5.

Iklan

Dinding Opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s