Pengantar Pragmatisme Klinis dan Argumentasi Berdasar Kasus

Sebuah pengantar teramat singkat. Upaya agar tidak berakhir terlupakan dalam ingatan selepas membaca.

Pragmatisme Klinis

Pemilihan putusan dalam praktik klinis ditentukan oleh pertimbangan moral berdasarkan gaya (aliran) argumentasi yang dikemukakan. Gaya pragmatisme yang dikenalkan oleh John Dewey dan ditarik dalam ranah medis hadir bukan untuk membenarkan segala tindakan klinisi, melainkan sebuah upaya untuk mencapai putusan terbaik mengenai suatu masalah klinis terkait moral melalui proses pemastian (identifikasi masalah-pilihan yang mungkin), memperkaya sudut pandang (diskusi-negosiasi), serta evaluasi reflektif (terkait hasil akhir). Semisal memastikan keadaan medis pasien serta diagnosisnya, memahami kemampuan putusan pasien (dalam menentukan pilihan), memahami nilai personal pasien (keyakinan, adat, budaya), memahami kebutuhan-keinginan pasien, memahami kondisi serta respon-interaksi keluarga terhadap pasien, memberikan rancangan ragam pengobatan pasien yang mungkin kedepannya, dan sebagainya. Atas kerangka tersebut, dapat diperoleh sebuah putusan tepat secara etis, namun tidak menjamin tepat dalam konteks lainnya.

Putusan tepat secara etis ini dicapai dengan mengetahui fakta-fakta medis, Mengupayakan suatu tindakan yang bersifat sia-sia (futile) secara medis terhadap pasien merupakan tindakan yang bertentangan secara etis, sehingga proses mengetahui fakta-fakta medis menjadi penting bagi penyelesaian dilema moral serta penyusunan argumentasi atas suatu tindakan medis (terkait pemberian, withdrawal, dan withholding). Namun perlu digarisbawahi bahwa selain fakta-fakta medis, juga perlu dipertimbangkan fakta-fakta nilai personal, sehingga membuka ruang dialog (dialektika) terhadap dilema yang dihadapi pasien-wakil pasien dan personel pelayan kesehatan untuk dapat saling memahami perspektif masing-masing serta menghasilkan putusan yang tepat (baik secara etika maupun hal lainnya) bagi kebelah dua pihak dan tidak ada yang dirugikan (baik secara materi maupun non-materi, semisal harta dan rasa bersalah).

Melihat Pragmatisme Klinis Bekerja

Berdasar pada akarnya yakni gaya pragmatisme, pragmatisme klinis hadir membawa nafas penolakan bahwa nilai moral adalah sesuatu yang bersifat kaku dan absolut serta digunakan layaknya alat mekanik yang cara kerjanya dan hasilnya sudah pasti. Gaya pragmatisme menolak bentuk absolut, bagi Dewey bahwa nilai moral merupakan sesuatu yang selalu diandaikan (hipotetis) dan tentatif (berubah-ubah), setidaknya sampai berkenaan langsung dengan kasus riil yang memiliki konsekuensi langsung. Kerangka tersebut diadopsi oleh pragmatisme klinis, menyatakan bahwa putusan moral tidak dapat didasarkan hanya pada argumentasi perandaian belaka, namun harus dapat berkenaan dengan kasus riil, oleh sebab adanya ragam faktor yang mempengaruhi dan tidak dapat diabaikan. Atas dasar argumentasi tersebut, pragmatisme klinis merupakan hasil perpaduan (sintesis) antara etika (sebagai tesis) dan gaya berpikir klinis (sebagai anti-tesis).

Sederhananya, pragmatisme klinis tidak menawarkan sebagai alat putusan moral pasti, melainkan sebuah alat proses putusan moral. Pragmatisme klinis tidak memiliki kepastian, layaknya gaya pertimbangan moral lainnya yang memiliki syarat tertentu dan hasil akhir tertentu yang sudah pasti, melainkan ia terbuka pada proses berdasarkan pada rangkaian proses pemastian, memperkaya sudut pandang, serta evaluasi reflektif antara pasien dan personel pelayan kesehatan. Atas dasar kerangka tersebut, dapat dipahami bahwa tidak ada ungkapan berhasil (successful) dari penerapan gaya pragmatisme klinis, yang ada hanya lah tepat sesuai kondisi serta faktor yang mempengaruhi yang terjadi dan antara satu kondisi dengan kondisi lainnya beserta faktor yang mempengaruhinya dimungkinkan untuk memiliki hasil tepat yang berbeda. Konotasi tepat yang digunakan adalah didasarkan pada suatu putusan moral yang melibatkan berbagai faktor nilai personal yang ada dalam kondisi tersebut dan disetujui oleh seluruh partisipan yang terlibat, sehingga dapat disimpulkan bahwa pragmatisme klinis merupakan sebuah upaya menemukan jalan tengah atas dilema moral yang terjadi.

Pertanyaan yang mungkin
Bila fondasi pragmatisme klinis berada dalam putusan yang dianggap tepat dalam suatu kondisi yang melibatkan berbagai faktor nilai personal yang ada dalam kondisi tersebut dan dicapai dengan persetujuan seluruh partisipan yang terlibat, maka bagaimana cara menentukan siapa saja yang dapat dianggap sebagai partisipan yang nilai personalnya dapat dijadikan bagian dari pertimbangan?

Argumentasi Berdasar Pada Kasus

Argumentasi berdasar pada kasus merupakan sebuah cara penyelesaian atas suatu masalah menggunakan pijakan yang didasarkan dari kerangka serta simpulan yang didapat dari penelitian atau kasus sebelumnya, setidaknya memiliki persamaan (terkait pola, subjek, tema, dan lainnya). Gaya penyelesaian tersebut diperkuat oleh temuan psikologi kognitif, yang menyatakan bahwa stuktur perkembangan ingatan manusia cenderung merekam dan mempelajari pola, rangkaian, serta hasil dari berbagai kejadian atau kondisi yang telah lalu untuk menyelesaikan masalah yang tengah dan/atau akan terjadi. Bila dalam upaya penyelesaian masalah yang telah lalu tersebut gagal, pola, rangkaian, serta hasil tetap akan diingat, guna mengenali (identifikasi) kembali dan mencegah kegagalan serupa; bila berhasil, pola, rangkaian, serta hasil juga tetap akan diingat, guna mengenali kembali dan mengulang keberhasilan serupa. Gaya penyelesaian argumentasi berdasarkan kasus sebelumnya dikategorikan menjadi empat bagian, yakni integrasi dengan gaya pembelajaran lain, integrasi dengan gaya argumentasi lain, kolaborasi dengan gaya proses paralel, dan menggunakan metode lanjut dengan memusatkan pada aspek kognitif baru. Penerapan argumentasi berdasar kasus secara umum dapat ditemukan pada sistem kecerdasan buatan, yang ditujukan untuk membantu upaya penyelesaian masalah dan memutuskan suatu pilihan.

Gaya Berdasar Kasus

Gaya berdasar kasus atau kasuistik, memakai pola induksi yakni dari bawah ke atas (atau khusus ke umum). Gaya kasuistik ditujukan untuk mencari putusan yang dapat dipertahankan (kuat) dalam suatu kasus tertentu. Pada klaimnya, gaya kasuistik menyatakan bahwa pengetahuan akan moral berasal dari pemahaman manusia atas suatu kasus dan kondisi tertentu, yang kemudian argumentasi moral tersebut dibangun melalui penerapan moral yang telah terjadi (preseden moral) dan argumentasi analogi (berpola mengandaikan, seperti jika X maka Y, kemungkinkan X’ maka Y’). Sederhananya, bila seseorang memberikan putusan dalam suatu kasus (sebagai X) bahwa bernilai salah, orang tersebut telah mempelajari dan memahami kasus atau kondisi tersebut. Pengetahuan atas kasus atau kondisi tersebut kemudian membawa seseorang tersebut petunjuk (sebagai hasil reflektif) untuk menyelesaikan masalah berikutnya yang memiliki pola setidaknya serupa. Semisal mengenai perdebatan etika mengenai penelitian melibatkan manusia sebagai subjeknya, pasti akan merujuk kembali pada salah kasus penelitian kontroversial yakni penelitian sifilis Tuskegee. Penelitian sifilis Tuskegee dinilai salah secara etika, sehingga penilaian tersebut (merujuk pada salah) dapat dijadikan sebuah pijakan (bentuk analogi secara tidak langsung) bagi pengajuan penelitian yang akan datang yang menggunakan manusia sebagai subjeknya.

Pertanyaan yang mungkin
Gaya kasuistik memiliki kecenderungan penetapan nilai moral tertentu menjadi sesuatu yang absolut, sehingga bila segala penelitian yang melibatkan manusia sebagai subjeknya bernilai salah secara etika (dengan merujuk pada kasus penelitian Tuskegee), maka apakah segala bentuk tindakan lain dalam kerangka upaya menguji suatu hasil atau dampak pada manusia juga menjadi tidak dibenarkan (semisal merujuk pada upaya pengujian klinis atas suatu obat atau vaksin terhadap manusia sebelum dapat dipasarkan dan dikonsumsi oleh masyarakat)?

Daftar Rujukan

Fins, Joseph, Franklin G. Miller, and Matthew D. Bacchetta. “Clinical pragmatism: A method of moral problem solving.” Kennedy Institute of Ethics Journal 7.2 (1997): 129-143.
Jansen, Lynn A. “Assessing clinical pragmatism.” Kennedy Institute of Ethics Journal 8.1 (1998): 23-36.
A. Aamodt, E. Plaza (1994); Case-Based Reasoning: Foundational Issues, Methodological Variations, and System Approaches. AI Communications. IOS Press, Vol. 7: 1, pp. 39-59.
Case based methods. In Chapter 1: Methods in Bioethics. The Oxford Handbook of Bioethics. Bonnie Steinbock (editor). 2007.

Iklan

Dinding Opini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s