Whole-brain Emulation: Upaya Melampaui Kematian dan Pertimbangan-pertimbangan Terhadapnya

Kematian adalah hal yang luar biar biasa dalam kehidupan. Tidak dapat dipungkiri, kematian memiliki makna dan daya dorong yang tidak terbatas. Menyadari kematian berarti menciptakan kegelisahan-kegelisahan. Kegelisahan inilah yang berperan besar dalam menciptakan berbagai strategi dalam kehidupan, seperti bagaimana manusia merancang dan menjalani kehidupannya agar menjadi lebih bermakna dan bahkan mungkin untuk melampaui usianya (Linssen & Lemmens, 2016). Contoh ketika manusia memutuskan untuk menjaga pola makannya dan mulai rutin berolahraga, yang ditujukan untuk menjaga kesehatannya, atau ketika manusia memutuskan untuk mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti vitamin dan herbal, yang ditujukan bukan lagi untuk menjaga kesehatan namun justru melampauinya, yakni agar dapat lebih fit dan lainnya.

Baca lebih lanjut
Iklan

Membiarkan COVID-19 Menjadi Penyakit Generasi Muda

Sebagaimana banyak orang tua sekarang ini, Jason Newland, seorang pediatrik (dokter anak—pen.) di Washington University St. Louis dan seorang ayah dari remaja berusia 19, 17, dan 15 tahun, kini tinggal di keluarga dengan jenis vaksinasi yang berbeda. Anaknya yang berusia 19 tahun mendapat jatah vaksin Johnson & Johnson (merk vaksin—pen.) dua pekan lalu, dan anaknya yang berusia 17 tahun mendapat jatah Pfizer, vaksin yang tersedia untuk usia mulai 16 tahun.

Baca lebih lanjut

COVID-19 dan Dilema Seorang Dokter

Kehadiran Covid-19 menjadi masalah serius yang datang kepadaku tepat setelah ulang tahunku ke tujuh puluh dua pekan lalu. Aku baru saja merayakan pesta kecil-kecilan yang menyenangkan bersama keluarga dan kerabat—sementara, mungkin beberapa sudah terjangkit oleh virus. Kami saling bercanda untuk tidak berjabat tangan atau pun memeluk. Aku tidak menyukainya waktu itu, namun ternyata pesta tersebut bukan hanya merayakan hari ulang tahunku namun juga menjadi awal dari potensi besar sekelompok orang mengalami ancaman kematian akibat virus.

Baca lebih lanjut

Akhir dari Virus Korona

Tiga bulan lalu, tidak ada yang tahu soal keberadaan SARS-CoV-2. Namun kini virus tersebut telah menyebar luas hampir ke seluruh penjuru negeri, dan telah menginfeksi setidaknya 446.000 orang yang mungkin sebagian kita kenal dan sebagiannya lagi tidak kita kenal. Kejadian tersebut tentunya menciderai sektor ekonomi dan sistem pelayanan kesehatan, serta membuat berbagai rumah sakit penuh dan tempat umum menjadi sepi. Baca lebih lanjut

Imunitas Kawanan: Upaya Mengembalikan Kompetisi Semestinya atau Upaya Pembunuhan Masal?

Ketika sebagian negara di benua utama Eropa memilih memberlakukan dan mendisiplinkan karantina bahkan pengurungan (lockdown)–dengan meliburkan sekolah-sekolah dan memasang tantara di jalan untuk menjaga–justru pemerintah Inggris memberikan arahan pada rakyatnya agar tetap tenang dalam merespon wabah yang tengah terjadi di hampir seluruh dunia (pandemi global)[1]. Khususnya pekan kemarin, masyarakat dunia dikejutkan dengan usulan yang cukup menantang dari pemerintah Inggris. Baca lebih lanjut

Implikasi Prinsip Nonmaleficence-Beneficence dalam Kerangka Utilitarian

Prinsip nonmaleficence berdiri dalam kerangka fondasi primum non nocere, yakni upaya untuk tidak melakukan tindakan yang dapat memberikan rasa sakit atau membahayakan[1]. Fondasi tersebut telah lama terpatri dalam sumpah Hippocratic, yang secara jelas menyatakan bahwa seseorang yang mendalami ilmu dan seni medis akan selalu melakukan yang terbaik dalam upaya mengobati, dan tidak akan pernah menyalahgunakan pengetahuan dan keahliannya untuk menyakiti atau pun melukai pasiennya[2]. Baca lebih lanjut

Mungkinkah Tenaga Medis Melakukan ‘White Lie’?

Seorang tenaga medis terikat dan berpegang pada kode etik[i] dan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Beberapa kewajiban yang dilekatkan pada seorang tenaga medis adalah hak atas informasi, hak untuk menolak treatment baik obat-obatan maupun tindakan serta konsekuensi dan dampak yang ditimbulkan dari putusan ini, hak atas privasi, hak atas kerahasiaan serta limitasi akses terhadap riwayat kesehatan yang terekam dalam institusi kesehatan, hak atas segala informasi bila obat-obatan dan tindakan yang akan diberikan merupakan bagian dari eksperimentasi-riset[ii], hak untuk memperoleh layanan kesehatan secara sungguh-sungguh. Tentu kode etik dan SOP tersebut dibentuk atas dasar kebaikan. Akan tetapi ada kalanya justru tindak kebaikan ini terhalang oleh berbenturan kebaikan lainnya, summum bonum atau kebaikan yang nilainya lebih tinggi[iii]. Baca lebih lanjut