Manusia: Mereka yang Dikutuk antara Kehilangan Demi Kehilangan

Apakah kita (manusia dan hewan), itu benar-benar setara? Kita tentu sering mendengar ungkapan bahwa manusia adalah binatang yang berakal; pembeda manusia dan hewan hanyalah pada kemampuan akalinya. Tapi bagaimana kita mengetahui hal semacam itu, terlebih untuk dapat menjawab pertanyaan pembuka di atas, apakah kitamanusia dan hewan, benar-benar setara tentu perlu menyandarkan diri pada sejarah bagaimana semua pengetahuan tentang evolusi dimulai. Baca lebih lanjut

Dilema Etis Rekayasa Planet dan Kolonisasi Manusia Di Planet Lain Dalam Film The Space Between Us (2017) Karya Peter Chelsom

 

“I want to go to Mars. Not just to visit, I want to live there. Because then I’d be living proof that life on Mars was possible. Proof that if we had to, mankind would make a fresh start. We’re in trouble, and it’s our fault. And we’re running out of time and Mother Nature doesn’t negotiate. We can’t give up, not now. Mars is a planet ripe and ready for life. Earth’s resources may be depleted, but there’s one resource we must never neglect, it’s the most valuable and it’s the one without limits, courage.”

― Nathaniel Shepard

Baca lebih lanjut

Erich Fromm dan Konsep Tentang Mencintai

Sebelum kita membahas secara mendalam tentang konsep mencintai, ada pertanyaan penting ketika dihadapkan pada subjek dari cinta: Mengapa manusia dalam menghadapi proses untuk mencinta selalu menetapkan standar-standar tertentu? Semisal jika dia seorang laki-laki, maka akan mencari perempuan bertubuh sintal dengan payudara bulat mengangkat, rambut panjang terurai layaknya putri mahkota. Tapi pernahkah kita berpikir mengapa demikian? Apakah upaya mencintai semata-mata tentang objektifikasi, atau justru sebuah kemampuan? Baca lebih lanjut